INDONESIA
DARURAT ZINA
Malam bagaikan waktu terindah untuk mengekspresikan
kepuasaan mereka. Terlebih di kota besar. segala apresiasi yang mereka anggap
suatu keindahan dunia itu telah marak. Sebut saja dia Vera. Vera adalah gadis
yang cantik. Dia berasal dari keluarga berdarah biru. Ibunya dosen di
Universitas Indonesia. Ayahnya seorang konsul jendral. Dengan kehidupan yang
serba ada itu Vera yang awalnya anak pendiam , ramah dan aktifis itu berubah
total menjadi anak yang berontak itu disebabkan karena orang tuanya yang tidak
pernah memperhatikannya dan menganggap bahwa uang adalah segalanya. “ayah , ibu
tak pedulikan aku , mereka sibuk dengan urusan mereka sendiri . aku tak pernah diperhatikan. Kenapa Tuhan
mereka menganggap segala susuatu bisa dihargai dengan uang . uang dan uang ,aku
capeek” berontak Vera sambil mengobrak abrik kamarnya. Sejak itulah Vera
menjadi remaja yang brutal . dia bersama teman temanya membentuk sebuah geng,
sebut saja geng Cabe-cabean. Setiap malam mereka nongkrong di jalan terkadang
mereka mengadakan pesta poranda di sebuah diskotik. Menggoda cowok cowok itu
adalah target dari geng mereka. Setiap cowok yang terkena tipu daya akan mereka
habiskan hartanya. “hahaha , mangkanya jadi cwok jangan bodoh masak gitu saja
sudah klepek klepek sama kita, bodohnya lagi harta mereka habis karena kita”
sahut salah satu teman Vera diselingi dengan tawaan yang tak beradap muncul
dari mulut mereka. Sudah tak asing lagi di negara kita insan semacam Vera dan
kawannya. Mereka anggap ini adalah suatu kelaziman yang jikalau tak dilakukan
ini menjadi kenistaan. Itulah ideologi mereka. Tidak jarang ditemukan kaum adam
dan hawa saling berkhlawat tanpa di dampingi mahram. Terlebih mereka melakukan
tindakan asusila contohnya berciuman , berpelukan dan prihatinnya itu dilakukan
ditempat yang terbuka. Tanpa ada sedikitpun rasa malu pada jalanan atau
jembatan yang menjadi saksi atas tindakan mereka. Rasa malu itu tak ada lagi
justru jika berpacaran tidak melakukan tindakan semacam itu tadi mereka anggap
suatu kemaluan terbesar dalam hidup. “naak , kok baru pulang? Habis dari mana
ya?” tanya ibu Vera diselingi dengan mengetik beberapa buku yang menumpuk di mejanya tanpa menatap Vera
sedikitpun. “ apa pedulinya ibu sama aku” , jawab Vera ketus . dia langsung
masuk kamar tanpa ada sahutan lagi dari ibunya . setelah merebahkan badanya dia
membuka smart phone nya dan langsung menelvon kekasihnya, sebut saja Boy. “ Hai
booy , gimana dengan tadi ? sudah puaskah?”. Tanya Vera. “ waahh puas banget
sayang , makasih ya udah kasih itu ke aku.” Jawab Boy. Mendengar percakapan
Vera itu, Ibunya mulai curiga. Dia langsung menemui Vera dan membicarakan
masalah yang baru didengar. Tak ada keraguan ataupun ketakutan Vera membenarkan
kecurigaan ibunya. “ ya Allah sayang , kenapa kamu bisa seperti ini? Ibu tak
menyangka sebelumnya.” Pinta Ibu Vera terkejut. “ini semua karena kalian tak
pernah mempedulikan aku, kalian sibuk dengan urusan sendiri.” Jawab Vera sambil
menangis. Mendengar teriakan dan tangisan itu ayah Vera menghampiri kamar Vera.
Ibunya langsung menjelaskan kronologis ceritanya. Ayah Vera marah besar tetapi
beliau juga menyadari tindakan yang mereka perlakukan pada anaknya. Akhirnya
keluarga mereka mulai sekarang memegang komitmen untuk saling terbuka , saling
peduli, dan bersatu. Sekarangan keluarga mereka penuh dengan kasih sayang dan
kebarokahan karena ada rasa saling pengertian. Oleh karena itu kurangnya
perhatian orang tua ,pergaulan yang salah bisa menjadi pemicu lahirnya tindakan
asusila dan itu kita kembalikan pada masing masing individu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar