Kamis, 03 September 2015

cerpen karangan ori

INDONESIA DARURAT ZINA
Malam bagaikan waktu terindah untuk mengekspresikan kepuasaan mereka. Terlebih di kota besar. segala apresiasi yang mereka anggap suatu keindahan dunia itu telah marak. Sebut saja dia Vera. Vera adalah gadis yang cantik. Dia berasal dari keluarga berdarah biru. Ibunya dosen di Universitas Indonesia. Ayahnya seorang konsul jendral. Dengan kehidupan yang serba ada itu Vera yang awalnya anak pendiam , ramah dan aktifis itu berubah total menjadi anak yang berontak itu disebabkan karena orang tuanya yang tidak pernah memperhatikannya dan menganggap bahwa uang adalah segalanya. “ayah , ibu tak pedulikan aku , mereka sibuk dengan urusan mereka  sendiri . aku tak pernah diperhatikan. Kenapa Tuhan mereka menganggap segala susuatu bisa dihargai dengan uang . uang dan uang ,aku capeek” berontak Vera sambil mengobrak abrik kamarnya. Sejak itulah Vera menjadi remaja yang brutal . dia bersama teman temanya membentuk sebuah geng, sebut saja geng Cabe-cabean. Setiap malam mereka nongkrong di jalan terkadang mereka mengadakan pesta poranda di sebuah diskotik. Menggoda cowok cowok itu adalah target dari geng mereka. Setiap cowok yang terkena tipu daya akan mereka habiskan hartanya. “hahaha , mangkanya jadi cwok jangan bodoh masak gitu saja sudah klepek klepek sama kita, bodohnya lagi harta mereka habis karena kita” sahut salah satu teman Vera diselingi dengan tawaan yang tak beradap muncul dari mulut mereka. Sudah tak asing lagi di negara kita insan semacam Vera dan kawannya. Mereka anggap ini adalah suatu kelaziman yang jikalau tak dilakukan ini menjadi kenistaan. Itulah ideologi mereka. Tidak jarang ditemukan kaum adam dan hawa saling berkhlawat tanpa di dampingi mahram. Terlebih mereka melakukan tindakan asusila contohnya berciuman , berpelukan dan prihatinnya itu dilakukan ditempat yang terbuka. Tanpa ada sedikitpun rasa malu pada jalanan atau jembatan yang menjadi saksi atas tindakan mereka. Rasa malu itu tak ada lagi justru jika berpacaran tidak melakukan tindakan semacam itu tadi mereka anggap suatu kemaluan terbesar dalam hidup. “naak , kok baru pulang? Habis dari mana ya?” tanya ibu Vera diselingi dengan mengetik beberapa buku  yang menumpuk di mejanya tanpa menatap Vera sedikitpun. “ apa pedulinya ibu sama aku” , jawab Vera ketus . dia langsung masuk kamar tanpa ada sahutan lagi dari ibunya . setelah merebahkan badanya dia membuka smart phone nya dan langsung menelvon kekasihnya, sebut saja Boy. “ Hai booy , gimana dengan tadi ? sudah puaskah?”. Tanya Vera. “ waahh puas banget sayang , makasih ya udah kasih itu ke aku.” Jawab Boy. Mendengar percakapan Vera itu, Ibunya mulai curiga. Dia langsung menemui Vera dan membicarakan masalah yang baru didengar. Tak ada keraguan ataupun ketakutan Vera membenarkan kecurigaan ibunya. “ ya Allah sayang , kenapa kamu bisa seperti ini? Ibu tak menyangka sebelumnya.” Pinta Ibu Vera terkejut. “ini semua karena kalian tak pernah mempedulikan aku, kalian sibuk dengan urusan sendiri.” Jawab Vera sambil menangis. Mendengar teriakan dan tangisan itu ayah Vera menghampiri kamar Vera. Ibunya langsung menjelaskan kronologis ceritanya. Ayah Vera marah besar tetapi beliau juga menyadari tindakan yang mereka perlakukan pada anaknya. Akhirnya keluarga mereka mulai sekarang memegang komitmen untuk saling terbuka , saling peduli, dan bersatu. Sekarangan keluarga mereka penuh dengan kasih sayang dan kebarokahan karena ada rasa saling pengertian. Oleh karena itu kurangnya perhatian orang tua ,pergaulan yang salah bisa menjadi pemicu lahirnya tindakan asusila dan itu kita kembalikan pada masing masing individu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar